SUMBAWA, gema-news.com – Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Sumbawa, mengaku untuk beberapa komoditas pangan tertentu masih belum swasembada, sehingga pasokan komoditas pangan masih sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah terutama Pulau Lombok dan Bali.
“Kita hanya swasembada di padi, daging, dan jagung. Sementara, untuk komoditas lain seperti sayur, ayam, dan telur kita masih bergantung ke daerah lain,” kata Sekretaris DKP Sumbawa, Syaihudddin.
Syaihu melanjutkan, bahkan kedelai pun masih belum bisa diproduksi dalam daerah yang mengakibatkan harganya cukup tinggi di pasaran. Termasuk untuk komoditas sayur juga masih bergantung ke daerah lain, Padahal sebelumnya, Sumbawa sempat swasembada.
“Di awal tahun 2000 khusus untuk sayur kita swasembada, bahkan kita punya lahan pertanian kol di Kecamatan Lape. Tetapi kondisi saat ini, beralih menjadi pemukiman masyarakat,” ucapnya.
Selain beberapa komoditi tersebut, kebutuhan gula merah dan kedelai masih sangat bergantung dari luar daerah,sehingga untuk komoditi tersebut masuk dalam kategori ketahanan rendah dan sangat berpotensi terjadi inflasi jika pasokan ke daerah terbatas.
“Jadi, para pengusaha kita ini belum berani menyetok banyak untuk komoditi tersebut karena dikhawatirkan rusak dan harga yang selalu berubah,” ucapnya.
Ia menambahkan, pemerintah juga kembali menggelar pasar murah bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran penerima bantuan pangan. Selain itu, bantuan itu juga dilakukan untuk menanggulangi kekurangan pangan, gizi dan mengendalikan gejolak harga pangan.
“Pasar murah akan kita laksanakan di beberapa titik sebagai upaya meringankan beban masyarakat terutama selama bulan Ramadhan dan jelang hari raya idul fitri,” tukasnya. (GM)




