SUMBAWA, gema-news.com – Program Hilirisasi Unggas Terintegrasi di Kabupaten Sumbawa resmi dimulai dengan groundbreaking yang dilakukan Gubernur NTB, Dr. Lalu Muhammad Iqbal, di Desa Serading, Kecamatan Moyo Hilir, Jumat sore. Kegiatan ini dilaksanakan bersamaan secara virtual dengan groundbreaking enam proyek hilirisasi lainnya di berbagai daerah di Indonesia.
Secara nasional, proyek hilirisasi ini bernilai Rp20 triliun di bawah naungan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Kabupaten Sumbawa berhasil mengamankan investasi sebesar Rp1,3 triliun untuk pengembangan industri ayam terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Gubernur Miq Iqbal menegaskan, proyek ini bukan sekadar pembangunan kandang ayam, melainkan embrio industrialisasi perunggasan yang utuh. Ke depan, industri ini diharapkan memperkuat kemandirian pangan, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan peternak lokal.
“Jika ekosistem ini berjalan, NTB tidak hanya menjadi produsen bahan baku, tetapi pusat produksi unggas yang mandiri dan berdaya saing,” ujarnya.
Direktur Hilirisasi Peternakan Kementerian Pertanian RI, Dr. Makmun, menyebut kehadiran industri ini sebagai bagian dari strategi besar pemerintah membangun ekosistem perunggasan nasional di luar Pulau Jawa. NTB dinilai sangat strategis karena produksi jagungnya menempati peringkat tiga nasional, sementara jagung menyumbang sekitar 50 persen komposisi pakan unggas.
Selama ini, peternak di NTB menghadapi kendala keterbatasan akses bibit unggul dan pakan. Melalui program ini, negara hadir menghadirkan solusi melalui keterlibatan BUMN seperti PT Berdikari dan PT Perkebunan Nusantara III, yang fokus pada pembibitan, pabrik pakan, dan penyediaan day old chick (DOC) berkualitas dengan harga terjangkau.
Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP, mengungkapkan bahwa hadirnya program ini merupakan hasil perjuangan panjang. Bahkan, proyek ini sempat hampir keluar dari daftar nasional sebelum akhirnya berhasil dipastikan kembali melalui komunikasi intensif dengan pemerintah pusat dan dukungan berbagai pihak.
H. Jarot menyampaikan rasa syukur atas dimulainya proyek ini di Sumbawa. Menurutnya, industri ayam terintegrasi ini akan memperkuat rantai pasok, menekan biaya produksi peternak, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.
Ia juga menegaskan bahwa pembangunan ini selaras dengan program prioritas nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) serta upaya memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan. Kehadiran BUMN dalam proyek ini diharapkan memberi kepastian bagi peternak, mulai dari bibit, pakan, hingga pemasaran, sehingga harga tidak sepenuhnya dikendalikan mekanisme pasar yang kerap merugikan peternak kecil. (GM)






