SUMBAWA, gema-news.com – Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa menghimbau petani agar lebih bijak dalam menentukan pola tanam menjelang musim kemarau dan menyesuaikan jenis tanaman dengan ketersediaan air di sekitar area pertanian.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa, Ir. Ni Wayan Rusmawati, M.Si menegaskan bahwa saat ini wilayah Sumbawa mulai memasuki musim tanam kemarau pertama. Karena itu, petani diimbau agar menyesuaikan jenis tanaman dengan kondisi serta ketersediaan air di lapangan.
“Memasuki musim tanam kemarau I, petani kami minta bijak menentukan pola tanam dengan memastikan kondisi dan ketersediaan air yang ada. Ini penting untuk mengurangi risiko yang tidak diinginkan, mengingat prediksi BMKG akan terjadi kemarau panjang,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya.
Ni Wayan menjelaskan, Kabupaten Sumbawa merupakan daerah dengan luas lahan pertanian terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tercatat, lahan pertanian basah mencapai 54.918 hektare, sementara lahan kering sekitar 83.000 hektare.
Pada musim tanam kemarau I, lahan basah umumnya ditanami komoditas padi, jagung, dan bawang merah. Sedangkan lahan kering didominasi tanaman kacang hijau, wijen, sayuran, serta palawija lainnya.
Menurutnya, kehati-hatian dalam menentukan pola tanam menjadi sangat penting, mengingat tahun 2026 diprediksi akan mengalami kemarau yang lebih panjang dan panas dibanding biasanya.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah melalui Kementerian Pertanian bersama Dinas Pertanian setempat telah menyiapkan berbagai upaya, di antaranya bantuan sumur dalam dan dangkal, serta pendampingan intensif bagi petani.
Selain itu, pemerintah juga menyediakan dukungan infrastruktur seperti pompanisasi dan pipanisasi guna mengoptimalkan pemanfaatan sumber air, baik dari sungai maupun mata air.
“Di daerah yang memiliki sumber air namun berpotensi kekeringan, akan dibantu dengan pompa dan jaringan perpipaan. Ini untuk memastikan kebutuhan air pertanian tetap terpenuhi,” jelasnya.
Tak hanya itu, pembangunan bendungan dan sumur bor juga menjadi bagian dari upaya jangka panjang dalam mengatasi dampak kekeringan.
Ni Wayan menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, penyuluh, dan petani dalam menghadapi tantangan musim kemarau ini. Ia juga mengingatkan petani untuk selalu mengikuti arahan penyuluh pertanian serta aktif memantau informasi cuaca dari BMKG.
“Pendampingan dan koordinasi dengan kelompok tani harus dilakukan bersama-sama agar risiko gagal panen bisa ditekan,” pungkasnya. (GM)







