SUMBAWA, gema-news.com– Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Sumbawa terus melakukan skrining kesehatan jiwa terhadap 74.304 orang pelajar. Dari total tersebut, sebanyak 27 orang atau 16,8 persen alami gejala depresi atau Orang Dengan Masakah Kejiwaan (ODMK).
Hal ini dibenarkan oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, dr Abadi Abdullah, didampingi Ketua Tim Kerja Kesehatan Jiwa, NAPZA, Disabilitas, Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, serta Kelompok Rentan, Ulva Nalaraya STrKeb Bdn.
Ia menjelaskan, pelajar dalam hal ini mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi (PT). Ketika dibagi ke dalam kelompok usia, maka tercatat sebanyak 15 orang atau 9,4 persen berusia usia 7 – 18 tahun atau 9,4 persen. Sisanya, 12 orang atau 7,5 persen berusia 19-24 tahun.
“Jika digabungkan, terdapat 27 pelajar dan mahasiswa yang terindikasi mengalami,” ungkapnya.
Ia mengungkapkan, faktor utama yang memicu gangguan kesehatan jiwa pada kelompok pelajar tersebut adalah tekanan psikologis, terutama akibat perundungan atau bullying. Tekanan tersebut tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah, tetapi juga berasal dari lingkungan keluarga dan pergaulan sosial.
Beberapa sekolah yang menjadi lokasi pengambilan sampel, lanjut dr Abadi, mengakui masih adanya indikasi praktik perundungan. Namun, pihak sekolah juga menyampaikan keterbatasan dalam melakukan pengawasan secara menyeluruh terhadap perilaku siswa, terutama di luar lingkungan sekolah.
“Sebanyak 27 pelajar yang terindikasi mengalami depresi ini akan kami koordinasikan kembali dengan pihak puskesmas untuk dilakukan verifikasi ulang,” ujarnya.
Penanganan awal dilakukan di puskesmas melalui layanan konseling, edukasi kesehatan jiwa, serta verifikasi ulang dengan sesi konseling lanjutan. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan kebutuhan penanganan lebih lanjut, puskesmas akan mengeluarkan rujukan ke rumah sakit daerah yang memiliki tenaga psikolog, psikiater, dan dokter spesialis jiwa.
“Di rumah sakit akan dilakukan rangkaian pemeriksaan dan penanganan khusus sesuai kondisi masing-masing pasien,” tambah dr Abadi.
Ulva Nalaraya menambahkan, bahwa pihaknya tidak dapat memaksa masyarakat, termasuk pelajar, untuk menjalani penanganan lanjutan.
“Tujuan utama skrining ini agar mereka memahami kondisi kesehatan jiwanya. Harapannya, setelah paham, mereka secara sukarela mendatangi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan bantuan,” terangnya.
Ia menambahkan, pada tahun 2026 target pelaksanaan skrining dan pemeriksaan kesehatan gratis di Kabupaten Sumbawa ditetapkan mencapai 48 persen dari total jumlah penduduk. Seluruh tindak lanjut hasil skrining dilakukan melalui 26 puskesmas yang tersebar di Kabupaten Sumbawa.
Seluruh tenaga kesehatan yang terlibat telah mendapatkan pelatihan pelayanan kesehatan jiwa terpadu di Mataram bekerja sama dengan Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) yang tersertifikasi secara resmi.
Ulva menegaskan, Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa berkomitmen, untuk terus meningkatkan cakupan skrining kesehatan jiwa, khususnya di kalangan pelajar. Agar kondisi kesehatan mental generasi muda dapat terdeteksi lebih dini dan ditangani secara tepat. (GM)






