SUMBAWA, gema-news.com — Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., secara resmi membuka Festival Nimung Rame yang digelar di Kantor Camat Lopok. Festival tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus momentum untuk menjaga dan mewariskan tradisi budaya masyarakat Sumbawa.

Kegiatan berlangsung meriah dan dihadiri segenap Kepala Daerah Lingkup Pemkab Sumbawa, jajaran, Forkopimcam Lopok, para kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta masyarakat setempat.

Dalam sambutannya, Bupati Sumbawa, H. Jarot menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran Forkopimcam Lopok dan para kepala desa yang telah berkolaborasi menyukseskan kegiatan tersebut.

Menurutnya, kemeriahan Festival Nimung Rame tidak terlepas dari dukungan dan partisipasi berbagai pihak. Ia menilai kegiatan tersebut memiliki nilai penting karena tidak hanya menjadi hiburan dalam memeriahkan HUT Kemerdekaan RI, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenalkan kembali tradisi lokal kepada generasi penerus.

Festival Nimung Rame mengangkat tradisi masyarakat Sumbawa yang memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan pertanian. Nimung merupakan makanan tradisional yang proses pengolahannya menggunakan bambu dan menjadi salah satu warisan budaya yang perlu dijaga keberlangsungannya.

Bupati H. Jarot menegaskan, pelestarian tradisi tidak boleh hanya bergantung kepada generasi tua. Namun, keterampilan membuat nimung harus mulai diwariskan secara langsung kepada anak-anak muda agar mereka memahami proses pembuatan, tata cara, hingga nilai dan filosofi yang terkandung di dalamnya.

“Anak-anak muda harus diajarkan, sehingga ketika mereka nanti tua dan ibu, kakek, atau nenek mereka sudah tidak ada, masih ada yang pintar membuat timung,” ujarnya.

Lebih lanjut, Bupati H. Jarot juga menjelaskan bahwa tradisi Nimung Rame merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil pertanian, terutama padi. Menurutnya, keberadaan tradisi tersebut memiliki hubungan erat dengan keberlangsungan sektor pertanian dan lingkungan.

Ia menggambarkan keterkaitan tersebut secara sederhana, bahwa nimung tidak akan ada tanpa padi, padi tidak akan tumbuh tanpa lahan pertanian, sementara lahan pertanian membutuhkan ketersediaan air. Di sisi lain, keberadaan sumber air sangat bergantung pada kelestarian hutan.

“Tidak mungkin ada timung tanpa padi, tidak mungkin ada padi tanpa lahan pertanian. Tidak mungkin lahan pertanian bisa berproduksi tanpa air, dan tidak mungkin ada air kalau tanpa hutan,” jelasnya.

Karena itu, Bupati H. Jarot mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga hutan, sumber mata air, serta lahan pertanian. Menurutnya, kelestarian lingkungan merupakan bagian penting dalam menjamin keberlanjutan kehidupan masyarakat dan hasil pertanian.

“Kalau mata air tetap ada maka sawah kita akan subur. Kalau sudah subur maka kita akan panen dengan baik. Kalau panen kita meningkat, salah satu wujud syukur kita adalah dengan Nimung Rame,” tuturnya.

Selain pelestarian secara langsung, Bupati juga mendorong generasi muda memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana memperkenalkan kekayaan budaya Sumbawa kepada masyarakat luas. Ia berharap berbagai tradisi lokal dapat dikemas secara kreatif melalui media sosial, video pendek, maupun platform digital lainnya.

Menurutnya, generasi muda tidak seharusnya hanya menggunakan ruang digital untuk menampilkan konten yang bersifat lucu atau kontroversial. Keunikan budaya dan tradisi daerah juga perlu mendapat ruang yang lebih besar agar semakin dikenal, baik di tingkat nasional maupun global.

“Generasi muda agar lebih kreatif memperkenalkan budaya-budaya dan tradisi-tradisi kita ke dalam dunia digitalisasi. Jangan hanya hal-hal yang lucu atau kontroversial saja yang diekspos, tetapi keunikan daerah kita juga harus diperkenalkan,” pesannya.

Ia berharap Festival Nimung Rame tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi berkembang menjadi tradisi yang terus hidup dan diwariskan lintas generasi.

Terakhir, Bupati H. Jarot juga mengajak seluruh masyarakat menjadikan kekayaan budaya sebagai salah satu kekuatan dalam pembangunan daerah.

“Mari kita jadikan kekayaan budaya sebagai kekuatan untuk membangun Sumbawa yang unggul, maju dan sejahtera,” ujarnya.

Festival tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi kegiatan untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan RI, tetapi juga menjadi ruang edukasi, regenerasi budaya, penguatan rasa syukur atas hasil pertanian, serta sarana menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan di Kabupaten Sumbawa. (GM)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini