SUMBAWA, gema-news.com – Dinas kesehatan Kabupaten Sumbawa mencatat sebanyak 97 Kasus Demam Derdarah Dengue (DBD) terjadi hingga saat ini. Sebagai antisipasi penularan dan penyebaran masyarakat diminta gencar melakukan gerakan Pembebasan Sarang Nyamuk (PSN).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, Sarip Hidayat, mengungkapkan pihaknya memberikan perhatian serius terhadap tren kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di tahun 2026.
“Berdasarkan data yang ada total kasus DBD saat ini mencapai 97 kasus, sementara kasus kematian masih nihil,” jelas Sarip saat ditemui media ini di ruang kerjanya pada Selasa, (10/03).
Ia mengungkapkan wilayah perkotaan menjadi atensi utama karena kasus DBD tertinggi saat ini terjadi di Kecamatan Empang, Plampang dan Moyo Hilir. “Kasus DBD ini tidak hanya disebabkan oleh tingginya mobilitas penduduk dan kepadatan pemukiman yang mempercepat penyebaran nyamuk. Tetapi juga sampah plastik yang terbawa banjir dan menumpuk sehingga membuat genangan air untuk peridukan nyamuk Aedes Aegypti,” jelasnya.
Kasus tertinggi DBD saat ini terjadi Kecamatan Empang sebanyak 29 kasus, disusul oleh Kecamatan Plampang dengan 15 kasus, dan Moyo Hilir sebanyak 11 kasus. Sementara itu, wilayah perkotaan seperti Puskesmas Sumbawa Unit I, Labuhan Badas Unit I, dan Unter Iwes tetap dalam pengawasan ketat karena kepadatan penduduknya.
“Kami menginstruksikan seluruh jajaran Puskesmas untuk memperkuat sistem surveilans. Setiap ada laporan kasus positif, petugas wajib melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) maksimal dalam waktu 1×24 jam,” tegas Sarip.
Meski angka di awal tahun menjadi peringatan, pihaknya mencatat bahwa secara keseluruhan tren bulanan kasus tahun 2026 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Keberhasilan ini dipicu oleh beberapa faktor seperti Indoor Residual Spraying (IRS) yang disemprotan pada dinding bangunan di titik-titik kasus tertinggi, seperti di PKM Sumbawa Unit I dan Labuhan Badas Unit I pada Desember 2025 lalu.
Kemudian Gerakan PSN yang Masif yang dibarengi dengan pemberian larvasida dan fogging sesuai SOP. Penyuluhan Keliling Sosialisasi aktif oleh petugas Puskesmas ke pemukiman warga. Serta Edukasi Sekolah Kolaborasi Dinkes dan Puskesmas untuk menyasar lingkungan pendidikan.
Sarip menekankan bahwa kunci utama memerangi DBD bukan pada fogging, melainkan pada kemandirian masyarakat melalui gerakan 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur ulang, plus menghindari gigitan nyamuk.
“Kami telah mendistribusikan bubuk larvasida atau abate secara gratis ke seluruh Puskesmas sehingga masyarakat dapat memanfaatkan itu, untuk memutus siklus hidup jentik pada bak penampungan air yang sulit dikuras,” terang Sarip.
Sarip berharap sinergi antara intervensi medis dan kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dapat terus menekan angka kasus DBD di Kabupaten Sumbawa hingga mencapai titik terendah. (GM)








